Weynand Watory: Mengurus Papua Harus Tulus

weynand_watoryBagi Watory untuk memajukan Papua harus dimulai dari pembenahan sistem pendidikan di sana. Yang dilakukan selama ini di bidang pendidikan bagi warga Papua salah besar, karena disamaratakan. “Sistem pendidikan di Jakarta tidak bisa disamakan dengan sistem pendidikan di Papua. Sistem pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan daerah,” ujar Watory yang ditemui Roro Wiwien Purnamawati dari Media Pembaruan, Kamis (23/2), di Jakarta. Berikut petikan wawancara dengannya.

Banyak orang yang berharap Papua semakin kondusif. Apa komentar Anda?

Sekaramg ini bukan hanya pernyataan-pernyataan para elite di Jakarta. O ya kita memberikan perhatian. Dari dulu Soekarno ngomong seperti itu,. Malah berapi-api dilontarkan. Tapi pertanyaan kita setelah pidato berapi-api tentang Papua, apa yang hendak diperbuat? Soeharto juga ngomong bersemangat tentang Papua. Tapi apa yang diperbuatnya? Tidak ada. Setelah 40 tahun apa yang muncul? Kekecewaan rakyat kepada pemerintah pusat, karena tidak diurus. Ditelantarkan saja. Semua ketinggalan. Akhirnya kita memerlukan mesin percepatan yang namanya Otonomi Khusus. Tapi bagaimana nasib mesin itu. Saya pikir juga bukan seluruhnya kesalahan Jakarta. Banyak juga kesalahan yang dibuat di Papua. Jadi saya bilang bahwa ini interaksi dua hal. Satu inkonsistensi pusat, satu lagi capacity di Papua. Karena para pemimpin mau membuat satu lompatan yang besar. Tapi tidak pernah menata sesuatu disesuaikan dengan kondisi rakyat itu sendiri. Akhirnya Rp 28,28 triliun selama 11 tahun habis percuma. Kami dari Papua tetap pada tuntutan yang sama. Masih merasa tidak puas. Masih merasa kecewa. Merasa Otsus itu seperti kerbau punya susu, sapi punya nama. Rakyat Papua yang berjuang Otsus itu diberikan pemerintah pusat bersama-sama dengan uang. Jadi uang itu mendekat sebenarnya pemberian kewenangan. Tapi begitu sampai, uangnya yang dikedepankan. Kewenangannya tidak diurus.

Bagaimana upaya yang terbaik?

Jadi sebenarnya simpel saja. Mengurus Papua itu harus tulus dan harus berfikir sistematis. Tidak usah cerita yang hebat-hebat. Oleh karena itu, waktu saya dimintai kesediaan oleh Pak Welington, walaupun sesungguhnya sebelumnya sudah diminta oleh calon yang lain, tapi saya mengatakan mohon maaf bahwa orientasi saya jelas, saya berpihat kepada rakyat, membangun rakyat dan bila perlu saya tidur di kampung bilamana terpilih. Itu komitmen saya. Apalagi saya berasal dari kalangan perguruan tinggi. Saya mantan dosen. 17 tahun sudah menjadi dosen. Jadi jiwa saya selalu berpihak kepada rakyatada di lingkungan perguruan tinggi. Dan selama 17 tahun sebagai dosen, dua hari di kampus, selebihnya di kampung-kampung. Membangun proyek air bersih, membangun kebun, membangun listrik. Jadi selama 17 tahun kerjanya sepeti itu.

Apa kelebihan Pak Welington?

Jadi kalau saya diberi kesempatan, wah senang sekali. Saya sependapat dengan pemikiran Pak Welington, yang telah sebagai perencana di Bappeda selama 35 tahun. Jadi kami percaya, kombinasi kami berdua merupakan kombinasi ideal. Yang satu konseptor, yang satu idealismenya tinggi, keberpihakannya jelas dan mau bekerja di kampung. Cocoklah saya pikir. Oleh karena itu saya berharap Papua bisa bangkit. Beliau kan sering ke Jakarta. Nanti akan saya hubungi beliau dengan Anda, Memang dari calon-calon yang ada, yang paling miskin kami berdua. Paling miskin. Karena kami tidak punya uang, terpaksalah kami melalui jalur independen. Waktu kami mau mencalonkan diri, saya duga uang beliau Rp 1 miliar. Lalu saya bilang, bagaimana kita mau maju. Di kabupaten saja bisa mencapai Rp 5 muiliar. Tapi beliau bilang begini, Dik, kau usahalah. Iya Bang, jawab saya. Kalau kita orang baik, Tuhan pasti berpihak pada kita. Alam semesta pasti berpihak ke kita, rakyat pun pasti berpihak ke kita. Calon-calon lain malah bilang pada kita, kok memaksa diri sih. Ya tidak apa-apalah. Kami juga percaya, selama 50 tahun Papua menjadi bagian Indonesia rakyat Papua juga bertambah cerdas. Pasti mereka juga pandai memilih. Kami ini, bukannya melebih-lebihkan, kalau dari segi kualitas ya relatif lebih baik. Artinya, yang satu mantan Bappeda, orang perencana, yang satunya orang kampus, orang perguruan tinggi. Artinya saya mantan mahasiswa kemudian menjadi dosen pembimbing tentu tidak mungkin menjadi lebih bodoh dari mahasiswa. Minimal cukup pandai lah. Karena saya dosen fisika dan matematika. Rata-rata orang eksak atau basic science akan mendapat nilai untuk statistik yang baik.Bahasa Inggris pasti bagus, sejarah Indonesia pasti bagus. Kekurangan kami tidak punya uang. Tapi kami pikir, masih banyak orang yang mendukung orang tidak punya duit. Yang penting punya hati, punya komitmen, untuk membangun rakyat Papua yang masih sederhana itu. Yang masih mayoritas petani, nelayan itu. Bagi kita cuma itu yang mau kita urus. Kita tidak mau janji besar, tapi kerja kecil. Kami mau kerja besar kendati janji kecil. Cuma satu yang kita harapkan dari rakyat kerja, kerja, kerja, kerja dan kerja. Dengan begitu kita akan membuat perubahan besar. Perubahan besar menyebabkan kesejahteraan besar. Tidak ada yang hebat di dunia ini, keculai bekerja dan bekerja. Kita harap, duit bisa kita kasih ke rakyat, kemudian rakyat bisa berbuat sesuai. Di kampung-kampung bisa menghasilkan uang. Kalau subur, lahan luas tapi miskin kan lucu. Mustinya tanah luas, orangnya sedikit, kaya raya.

Selama ini di mana salahnya?

Ya karena pemimpin di daerah terlalu ingin membuat lompatan besar. Tapi fondasinya belum kuat. Mau lompatan besar harus dib ikin dulu fondasi, taruh anak tangga, baru orang di suruh lompat. Saya pikir, waktu lalu, pemimpin kita yang keliru. Keliru membangun Papua dengan studi banding ke Jepang, studi banding ke Eropa, lalu apa yang dilihatnya di Jepang dan Eropa hendak dipindahkan ke Papua. Padahal landasannya belum kokoh. Terutama pendidikan. Maka kami berdua akan fokus untuk membangun pendidikan di Papua. Jadi tidak ada cara lain mengubah manusia menjadi lebih baik budaya dan peradaban selain melalui pendidikan, Kalau tidak memajukan pendidikan, kita jangan harap apa-apa.

Planningnya seperti apa?

Sistim kita di sana musti ada yang terukur. Kalau kita mau membuat planning, perencanaan yang bisa kita jangkau masyarakat kita dengan sistem budaya, tingkat peradaban harus dijangkau. Kita jangan ceritera Jepang atau Negara-negara yang sudah sangat maju. Kita ceritera Papua saja. Kita bangun sistem pendidikan di mana anak-anak bisa belajar. Di mana guru-guru bisa betah mengajar dan naik pangkat otomatis. Supaya orang itu, antara hak dan kewajibannya imbang. Jadi kita jangan menyuruh orang bekerja di pedalaman yang tidak mempunyai televisi. Tinggal di situ hanya dengar suara jangkrik dari pagi sampai malam. Guru-guru di kampung anaknya tidak bisa sekolah lebih baik. Kan musti ada satu sistem. Keluarga dan anak-anak guru harus bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik. Mereka mendapat pendidikan yang sama seperti orang di kota.

Bagaimana Anda melihat pendidikan di Papua?

Ketika membuat sistem pendidikan, kita jangan menyamakan Jakarta dengan Papua. Sistem pendidikan di Jakarta tidak bisa disamakan dengan sistem pendidikan di Papua. Sistem pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan daerah. Kalau di Jakarta sampai 10 pelajaran, di Papua tidak perlu sampai 10 pelajaran. Yang penting pendidikan dasar seperti berhitung dan membaca harus ada. Dalam berhitung, kita perkuat mate-matikanya. Begitu pula pelajaran bahasa, juga diperkuat pelajaran Bahasa Inggris. Jadi porsinya kita sesuaikan. Jangan dipaksa materi ujian nasional sama. Intinya kita harus membangun basic yang kuat. Itu yang terpenting dan terutama.Soal kemudian orang beradaptasi dengan kemajuan, maka akan otomatis. Yang terpenting basicnya musti kuat .Kalau fondasinya rapuh, kita tidak bisa berbuat untuk yang lebih maju lagi. Saya memberi contoh pada diri saya. Kalau orangtua saya dulu tidak menyekolahkan saya, maka saya tidak akan menjadi seperti ini. Tidak mungkin saya berbahasa Inggris dan berjalan di 29 negara. Karena jalan pendidikan itulah yang menolong saya. Kebetulan guru-guru di sekolah saya berkualitas bagus. Pada masa trikora waktu itu, guru-guru dari Jawa pada masa transisi di Papua adalah guru-guru yang terbaik. Saya beruntung bersekolah di mana guru-guru berkualitas itu mengajar di situ. Sehingga kualitas ilmu pengetahuan yang saya peroleh lebih baik di banding dengan yang lain.Ini karena kualitas guru dan sistem pendidikan. Mereka sangat hebat di bidang ilmu pasti dan fisika. Begitu pula pengajaran bahasa Inggris. Saya waktu di SMP sudah bisa berbahasa Inggris. Sekarang, ada yang lulus S1 belum tentu bisa berbahasa Inggris. Jadi sistemnya harus tepat. Untuk di Papua cocoknya yang seperti apa sih? Kalau kekurangan guru, bagaimana mengatasinya? Tidak bisa dipakai sistem yang sama seperti di Jakarta, kelasnya enam, gurunya tiga puluh. Sudah jauh berbeda. Di Papua, kelasnya ada enam gurunya cuma dua. Beda kondisi pasti beda sistem. Jadi sistem ini yang harus secara detil diatur dalam Perdasi (Peraturan Daerah Provinsi). Dan kita mulai bekerja dengan mengumpulkan data terlebih dahulu. Sekarang banyak orang bicara tentang Papua, tapi tidak memegang data. Perguruan tinggi perlu dilibatkan. Libatkan gereja. Yang terpenting tersedia data dasarnya terlebih dulu. Kalau ada data bisa dianalisa, pokok masalah ada di mana sih. Lalu dengan kondisi saat ini, apa target kita untuk 20 tahun mendatang. Apakah harus sama dengan wilayah Indonesia lainnya. Kalau tidak sama, di mana letak bedanya, Nah itu yang harus kita bangun mulai sekarang.***

Sumber : MediaPembaruan.Com

Pos ini dipublikasikan di Weynand Watory dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s